Perjalanan ke Amsterdam, di Negeri Bendungan Eropa (1)

Perjalanan ke Amsterdam ini di lakukan penulis Pada tanggal 13 – 18 Juni 2005, penulis melakukan perjalanan ke Negara Belanda tepatnya ke Schiphol Amsterdam atas ajakan Direksi/QA Manager  PT. Sari Husada tempat penulis bekerja.  Perjalanan dilakukan berkaitan dengan kegiatan QA Managers Meeting Numico Group yang di hadiri oleh QA Manager seluruh group Numico diseluruh negara yang rutin di adakan. Berikut adalah catatan perjalanan, dlm sudut pandang penulis, dengan tidak banyak membahas isi dari pertemuan tersebut.  Sangat di sayangkan semua foto selama perjalanan hilang dalam satu harddisk yang seluruhnya crash sebelum sempat di upload, (jadi foto foto yang ada berasal dari google) . Tapi tetap menarik untuk di baca kok buktikan aja. Tulisan di bagi menjadi 3 tulisan terpisah. OK , Selamat membaca , Semoga bermanfaat.  

Senin 13 Juni 2005

Transit di Malaysia

Perjalanan ke Amsterdam Perjalanan ke Amsterdam ini menggunakan pesawat dari KLM Air lines, sekitar jam 19 malam WIB. Perusahaan Airlines yang berasal dari Negara belanda ini mengangkut kami menggunakan pesawat boing 747-400. Sebuah pesawat yang cukup besar yang jarang di gunakan untuk penerbangan domestic tanah air. Dari jendela pesawat saya melihat begitu besarnya pesawat ini. Subhanaallah …Allah maha kuasa….benda sebesar ini bia terbang mengangkasa.

Di dalam pesawat ini pikiran tentang kehalal makanan mulai muncul dalam benak saya, saat crew pesawat menghidangkan makanan untuk para penumpang. Pop-Mie yg saya siapkan saya simpan di tas besar saya yg saya titipkan di bagasi pesawat. Apa boleh buat …the show must go on… dengan asumsi bahwa pesawat ini terbang dari Indonesia yang kemungkinan besar sumber makanan dari Indonesia (negeri Muslim) maka saya makan dengan perasaan yg lebih tenang.

Perjalanan ke Amsterdam yang Unik

Perjalanan menuju Schippol airport ini kami transit di Malaysia, semua penumpang diminta turun selama sekitar 40 menit. Ini pertama kali juga buat saya menginjak kaki di negeri Jiran tempat asal penyanyi cantik Siti Nurhaliza (apa hubungannya..??!!). Wuiih Malaysia memang hebat….dari Kuala Lumpur International Airport ini saja saya bisa percaya bahwa pemerintahannya lebih mau untuk mengurusi negerinya. Negeri kecil (setidaknya di banding Indonesia) ini menciptakan airport dengan kondisi yg lebih baik, area ini tampak besih apik dengan perjalanan menuju tempat ini menggunakan kerta api listrik yg lembut dan bersih (jangan bandingkan dgn KRL jabotabek). Salah satu pemandangan yg menarik adalah Hutan hujan tropis yg dimilikinya, -hal serupa yg banyak terdapat di negeri kita-, di biarkan tumbuh alami ditengah tengah airport ini lengkap dengan gemerincik air dari sungai kecilnya. Tidak lama kami transit di KLIA ini, saya hanya mencatat bahwa saya melihat toko coklat dengan coklat 2 yang memiliki label halal di bungkusnya, tetapi saya belum akan membelinya.

Perjalanan menuju Amsterdam Holland ini memakan waktu total sekitar 16 jam, ini perjalanan saya yg terlama menggunakan pesawat terbang. Saya duduk dekat jendela pesawat sehingga bisa melihat pemandangan langit di luar sana. Barisan kursi yg saya duduki terdiri dari tiga kursi dengan saya duduk pada sisi paling kanan. Dan di sisi paling kiri adalah seorang wanta muda dari Malaysia, dia naik dari KLIA Malaysia setelah sebelumnya kursi itu diduduki oleh seorang bapak executive yg turun di Malaysia yg terlihat sedang flu tampaknya. Dan gadis ini pun tampaknya sedang flu juga sesuai pengakuanya. Kenapa saya bersebelahan dengan orang sakit terus….pikir saya. Dari tiga kursi ini hanya ada dua orang sehingga kursi bagian tengah kosong, alhamdulillah saya tidak perlu berdesakan / rapat dengan lawan jenis di pesawat ekonomi yg memang sempit kursinya ini.

Dia sebenarnya gadis yg ramah tapi kami berdua sepertinya malas banyak berbincang bincang, mungkin karena kami berdua lebih memilih tidur di pesawat yg amat dingin ini AC nya. Saya hanya tahu bahwa ia sedang dalam perjalanan ke Paris dan di bekerja di Afrika , gadis yg berani pikir saya setelah tahu itu. Namanya khas Malaysia bernuansa Islam tetapi saya lupa mencatatnya …shg sampai sekarang pun saya lupa. Walaupun namanya bernuansa Islami tetapi pakaian bernuansa eropa / barat. Baju pink ketat dengan ukuran baju yg (maaf) kadang terlihat area di sekitar udelnya, wah gawat…nih…..saya harus mengurangi menoleh ke sebelah kiri saya….

Pesawat mendarat sekitar jam 05 30 waktu Amsterdam belanda, beberapa jam sebelum mendarat saya sempat melaksanakan sholat shubuh di pesawat ini, dengan dasar waktu yg saya perhatikan dari jendela pesawat dimana langit sudah tampak kemerahan ciri masuknya waktu shubuh. Namun s/ d 3-4 jam setelah itu langit diluar sana masih tetap merah (lama sekali saya pikir shubuhnya ) Oh ya wajar karena pesawat ini bergerak cepat menjauhi arah matahari. Oh iya saya tidak menceritakan Pak Sty karena beliau memang mendapat Bisnis Class di depan sana sedangkan saya ekonomi, saya hanya sempat menengok saat trasit di KLIA dan melihat klas bisinis yg memang cukup lega dan nyaman.

Selasa 14 Juni 2005
Negeri Belanda yang tertib

Sampai di Schipol Amsterdam cuaca terlihat cerah namun suhu udara cukup dingin menurut kami, saya tdk tahu pastinya tetapi dari informasi yg saya cari dari internet beberpa hari sebelum berangkat suhu di Amsterdam sekitar 10 – 16 oC . Kami sempat tertawa heran ketika seorang ibu berkata kepada anak anaknya “cuaca yg amat bagus nak”. Beda waktu antara Indonesia/jogjakarta dgn Amsterdam adalah sekitar 6 jam itu saya ketahui dari jam kami yg belum sempat kami atur. Schipol airport tampak besar dan lenggang mungkin karena masih sepinya dari orang orang. Toko toko masih tutup. Kami sempat agak kebingungan bagaimana caranya agar sampai di hotel secepatnya. Setelah Tanya sana sini kita tahu bahwa bus hotel akan menjemput semua calon penghuni hotelnya dari Airport, hanya sayang kita datang terlalu awal jam pertama penjemputan adalah jam 06.00 pagi dan kita ada di haltenya 15 menit sebelumnya. Kita menunggu bis sambil agak kedinginan.

Hotel tempat kami menginap adalah NH Hotel Schipol. Saya baru mendengar nama hotel ini. Tadinya saya berharap bisa menginap di hotel yg banyak juga di Indonesia spt Sheraton, Accor group atau Shangrilla. Kelihatannya hotel nya tidak begitu rapih dan sekelas * 3 di Indonesia. Saya dgn Pak Sty bersepakat bahwa kita akan beristirahat dahulu di hotel karena acara dengan Numico group baru akan dimulai pukul 16 sore.

Saya hanya dapat tidur beristirahat sebentar, mungkin karena rasa ingin tahu saya yg lebih besar dari rasa capai saya lah yang menjadi penyebabnya. Setelah mandi saya memutuskan sedikit jalan-jalan di luar hotel. Di luar hotel aktivitas sdh mulai banyak, ada orang mengecat jalan area parkir yg dikhususkan untuk orang cacat (kursi roda). Tampaknya betul-betul di negeri ini setiap orang cukup dihargai. Saat itu sekitar jam 10.30 matahari bersinar cerah tapi udara terasa menyengat dingin bagi saya. Melihat melihat disekitar hotel agaknya belum merasa cukup bagi saya, setalah tahu bahwa bus hotel pulang balik menju bandara setiap 20 menit sekali, maka saya memutuskan untuk jalan – jalan ke bandara Schipol. Setelah pamit lewat telpon ke Pak Sty saya langsung pergi ke bandara, saya berharap disana dapat mencari makanan dengan label halal.

Bandara Schipol sudah ramai, berbeda sekali dengan saat saya datang tadi pagi. Orang orang di bandara Schipol tenyata cukup beragam asal etnisnya, memang seperti itulah umumnya kota-kota besar di Negara eropa. Yang mengesankan saya adalah beberapa kali saya melihat wanita-wanita berjilbab di sana. Dari wajahnya saya tidak dapat membedakan secara pasti dari mana dia berasal apakah asli Eropa, Turki atau asia selatan yg telah lama di eropa.

Tidak banyak yg saya lakukan selain melihat lihat suasana dan sedikit berbelanja di mini-marketnya. Di Minimarket tenyata tidak satu pun saya dapati makanan, snack atau makanan apa saja yg memiliki label halal. Tampaknya harapan mendapatkan makanan halal musnah. Saya jadi teringat kata kata istri saya saat itu bahwa seandainya terpaksa membeli roti maka carilah donat karena relative donat tidak menggunakan ragi saat pembuatannya (saat bekerja di IPTN istri saya memang banyak memiliki teman yang sekolah di Eropa). Akhirnya saya membeli 2 potong donat, susu cair kotak / UHT dan sedikit snack yang telah saya perhatikan komposinya. Ini menjadi teman makan siang saya selain pop Mie yg saya bawa dari Indonesia. Kembali di hotel saya memutuskan untuk istirahat siang, perasaan jet lag sudah mulai terasa.

Makan Malam disinari matahari

Sore hari acara dengan para manager dari Numico group di mulai, dijadwal rencananya sore ini hanya makan malam saja (welcome dinner). Kami pergi dari hotel dengan menggunakan bus yang tenyata menuju kota Amsterdam. Sekitar 45 menit perjalanan menuju Amsterdam. Di perjalanan sambil berbincang dgn Pak Sty saya melihat bahwa kota Amsterdam tampak rapih dan tertata, sungai sungai dengan boat kecil serta café-kafe kecil di pinggir jalan. Sepeda adalah alat transportasi yg banyak digunakan disana, tentang hal ini saya pun tahu bahwa fredeurick Heuring director Clf datang menemui kami dengan sepeda nya. Tidak seperti diJogjakarta sepeda motor justru sangant jarang saya lihat, ada tapi sedikit sekali disbanding kan dengan mobil atau sepeda.

Welcome dinner kami ternyata dimulai dengan tour keliling menggunakan boat kecil di salahsatu sungai kota Amsterdam. Oh iya disini bertemu dengan bu Inge Wilandouw, dari NIS Jkt. selain dia para perserta meeting dintaranya adalah auditor CLF kita Susan wagner dan geneve riedel serta waki dari Milupa spain, Helena. Dan ristra rusia dari China dan dari Cuijk Netherland. Dalam tour ini saya melihat sisi sungai sungai nya yg bersih serta banyak bebek liar berkeliaran, pohon pohon eropa yg asri bunga dan rumah yg menghadap sungai. Setelah sekitar 60 menit berada dalam boat. Akhirnya kami menuju lokasi makan malam. Cukup aneh pikir saya karena makam malam ini dilakukan sambil disinari hangatnya sinar matahari.

Sekitar jam 18 makan mulai dimulai, matahari sore masih menyala dengan teriknya. Salah seorang pria muda pelayan hotel tersenyum kepada saya, mungkin krn dikiranya saya dari china atau philipina dari tempat mana dia berasal. Saat makanan mulai dihidangkan saya langsung pergi menuju kepala pelayan menanyakan ttg makanan ini. Saya Tanya apakah dia puya makanan halal, dia bilang tidak, lalu saya katankan bahwa saya minta menu khusus tanpa pork (babi), beef (sapi) maupun chicken (ayam) hanya fish (ikan) yg saya mau, si bule pelayan itu berpikir sejenak lalu menyanggupinya. Makan malam berlangsung lebih dari 2 jam dari sini saya tahu (dan juga setelah dijelaskan oleh biu Inge dan p Sty) bahwa begitulah kebiasaan mereka. Mereka betah makan sambil berbincang bincang ngalor ngidul selama 2 jam itu. Saya tidak menikmati makan malam itu selain rasa kantuk yg kuat yang menyerang (sangat wajar, tubuh saya jelas minta tidur spt biasanya krn di indoensia saat itu adalah sekitar jam 02 dini hari) semua makanan yg dihidangkan rasanya tidak cocok. Kecuali ikan, umumnya rasa makanan terasa hambar tanpa bumbu, hanya sebagian dari makan makanan itu yg masuk ke perut saya.

Sekitar jam 21 makan malam selesai, langit masih terang tapi mulai terlihat senja Ibu Inge W dari NIS , karena tahu saya muslim, bergurau mengatakan kepada saya “ ber ayo sholat shubuh ini waktunya sholat shubuh”. Memang karena di Indonesia saat itu adalah sekiar jam 04 pagi. Sampai di hotel sekitar jam 10 matahari sudah mulai terbenam, walaupun jam biologis saya mengatakan pagi hari tapi badan ini rasanya lelah capek tidak menentu. Setelah sholat maghrib sekaligus isya (walaupun bisa saja tidak di jama’ maghrib dan isya akan pendek sekali jaraknya) saya lalu tidur.

Diposkan oleh Berna Virmuda di 20.22