Perjalanan ke Amsterdam, di negeri bendungan Eropa (bag ke-3, habis)

Perjalanan ke BelandaJumat 17 Juni 2005

Gagal Jumatan dan sholat di bandara

 Ini adalah hari terakhir saya berada di negeri Belanda ini, rencananya saya akan pergi ke kota Amsterdam dan menuju masjid untuk sholat jumat seperti janji saya kemari pada pemilik toko resto halal. Saya sampaikan ke P Sty akan hal ini shg saya check out lebih pagi dari nya. Kita janji bertemu di bandara beberapa saat menjelang boarding karena kebetulan kita pulang menggunakan penerbangan yang berbeda.

Saya checkout dari hotel sekitar pukul 08.00 dan seperti biasa saya berangkat ke bandara dengan bus hotel untuk melakukan check-in pesawat saya ke Jakarta. Tiba di bandara saya melihat suasana bandara jauh lebih ramai dari biasanya, ada apa pikir saya….  banyak orang berkerumun dan antri di luar bandara. Sopir bis hotel mengatakan hari ini ada pemogokan kerja, ternyata orang orang itu adalah calon penumpang Kereta Api yang terlantar yang harus menggunakan bus atau taxi karena tenyata karyawan KA melakukan mogok kerja (Demo)…. Wah susah pikir saya, saya berarti tidak bisa menggunakan KA ke Amsterdam. Setelah melihat situasi dan bertanya-tanya maka ada 2 kemungkinan cara saya ke Amstedam city, menggunakan taxi atau bis. Saya belum memutuskan dan memilih menyelesaikan chek in saya terlebih dahulu.

Saya mendapat informasi bahwa biaya taxi sangat tinggi. P Ketut dan P Sty pernah mengatakan biaya taxi bisa mencapai 100 – 200 Euro (sekitar 1 – 2 juta ) dalam sekali perjalanan. Ingat hal tersebut saya mulai berjalan menuju antrian bus. Setelah bertanya pada petugas bandara, tenyata menggunakan bus ke Amsterdam centre tidak lah mudah, saya harus menyambung  bus dan atau trem. dengan ongkos bus yang dia tidak tahu. Waktu itu sekitar pukul 10.30, saya masih antri di bus memikirkan kekhawatiran ini semua. Saya khawatir tidak bisa mengejar sholat jumat dan khawatir tidak dapat kembali ke Schipol dengan lancar, bagaimana kalo saya tersesat, bagaimana jika jalanan macet karena semua penumpang KA menggunakan transportasi lewat jalan raya, dan hal terburuk saya akan tertinggal pesawat saya ke Indonesia.. apalagi hingga saat ini belum ada tanda-tanda bis yang akan saya tumpangi datang….  Karena kekhawatiran itu semua dengan berat hati (ah… Gagal dech..!.  …) saya memutuskan untuk membatalkan renana saya ke Amsterdam city untuk sholat jumat, dan berarti akan menghabiskan waktu di bandara Schiphol Amsterdam.

 Menghabiskan waktu di bandara schiphol walaupun tidak sesuai rencana sedikit mengurangi kebosanan. Saya habiskan waktu saya disini mulai dari berjalan di pertokoan/mall bandara Schiphol (window shopping).  Hingga memberi makan burung-burung liar di luar area. Burung liar di sini tampak jinak.  Jumlahnya cukup banyak dan umumnya berukuran besar, beberapa spt burung gereja di Iandonesia hanya sedikit lebih besar. Saya pun banyak melihat burung gagak, berwarna hitam kelam,  yang sering ada di film film horor hollywood. Tampaknya burung burung tersebut sudah terbiasa di beri makan oleh orang-orang disana. Bandara Schiphol ini layaknya seperti sebuah mall ada berbagai macam kafe dan toko toko.  Dari toko pakaian, perhiasan sampai mini market. Toko buku dan majalah adalah tempat yang paling lama saya kunjungi. Beberapa souvenir sempat saya beli, walaupun tidak banyak yang saya beli (gak ada duit man…!).

Setelah masuk ke area dalam bandara, yang harus melewati pemeriksaan passport, saya memutuskan untuk mencari tempat sholat. Saat itu waktu sudah menjelang sore sekitar pukul 17 00 dan saya yakin tidak ada Mushola di sini. Setelah mengambil wudhu di toilet saya menggelar koran di salah satu sisi ruang tunggu para calon penumpang. Saya lakukan sholat wajib Jam’a-qoshor saya, sambil diperhatikan sejumlah orang. Di dekat ruang tunggu perjalanan ke Jakarta ini saya pun melihat sejumlah orang berwajah melayu atau Indonesia di sana, tapi mereka tidak peduli dengan shalat saya, mungkin karena sudah biasa, tetapi beberapa calon penumpang lain orang eropa asli banyak memperhatikan saya.  Ada seoang gadis muda dan orang tuanya tersenyum pada saya, saya balas senyum saja, mungkin mereka berpikir saya ini orang aneh karena senam dan bersujud sujud di tempat terbuka.

Saat boarding sudah dekat, saya mulai banyak mendengar orang berbicara dengan bahasa indonesia, cukup banyak penumpang bersama saya di pesawat, ini lebih banyak dari saat saya pergi. Sebelum boarding saya akhirnya sempat bertemu Pak Sty dan sedikit berbincang bincang dengan beliau dan berpamitan untuk berjumpa lagi di Indoenesia besok. Saya boarding dan dalam hati mengucapkan Selamat tinggal Netherland….Selamat tinggal Eropa.

Jakarta, Sabtu 18 juni

Belanda dan Islam :  Penutup.

Pesawat mendarat di Jakarta siang hari sekitar jam 13 00, di pesawat Garuda Jkt – Jogja  saya mendapat sebuah surat khabar gratis dari airlines. Tidak ada yang khusus hanya secara kebetulan (Astagfirullah… tidak ada yang kebetulan yah ….karena semua ini, sekecil apapun sudah ditakdirkan oleh Allah SWT.) saya mendapat koran berlatar belakang agama Nasrani. kalo tidak salah Suara Pembaharuan, dengan sebuah artikel yang menarik tentang Belanda. Artikel itu didahului dengan berita tentang pemogokan awak KA, dimana saya jadi korban sebagai calon penumpang terlantar. Mogok kru Kereta terjadi di seluruh Belanda selama hari jumat kemarin. Artikel tersebut lalu mencertakan tentang kondisi agama Nasrani di sana sesuai latar belakang koran tersebut.

Artikel itu menceritakan bahwa orang orang asli Belanda sudah tidak lagi menganut agama kristen atau katholik berbeda dengan para orang tua mereka. Mereka yang lahir dijaman modern pasca perang dunia kedua ini cenderung lebih sekuler, dan tidak peduli dengan agama. Di Belanda banyak gereja yang sudah sepi dikunjungi, banyak gereja yang akhirnya berubah fungsi setelah sebelumnya dijual, salah satunya berubah menjadi masjid. Saya tahu bahwa memang Agama islam pun menjadi agama dengan kecepatan pertumbuhan yang tinggi karena dinilai lebih rasionil dan sesuai dengan kebutuhan mereka,  dan seperti saya tahu fenomena ini banyak terjadi tidak hanya di belanda tapi di banyak tempat di eropa.

Tulisan artikel ini diakhir dengan fakta bahwa para pemuka agama  agama kristen/katholik khawatir akan hal ini sehingga mereka mulai gencar untuk melakukan penyebaran agama nya kembali. Hanya mereka mengakui bahwa mereka kekurangan kader / penginjil karena kecenderungan agama nya yang sudah semakin surut.  Sehingga mereka terpakasa mendatangkan para kader mereka/penginjil dari luar negeri belanda. Dan salah satu negara asal sumber kader penginjil itu adalah …….Indonesia..!. Ini berarti, tulisnya pula, bahwa jika dahulu Indonesia diinjil oleh orang Belanda maka sekarang orang Belanda di injil oleh orang Indonesia. 

Semua pengalaman saya ini serta isi dari artikel ini  membuat saya jadi teringat kata-kata Dr. Yusuf Qardhawi dalam sebuah tulisannya, tulisnya :” Dulu Eropa di taklukan oleh Islam dengan pedang dan kelak Eropa akan kembali ditaklukan oleh Islam dengan pena (dakwah)”.

 WaLLahua’lam bishowab….WalhamdiuliLLahirobbil alamin..!

Kemudo, Klaten , Agustus 2005.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*