Perjalanan ke Amsterdam, di negeri bendungan Eropa (bag ke-2)

Perjalanan-amsterdam-schippol

Rabu 15 Juni 2005

Hari ini adalah acara inti dari kepergian saya ke Holland ini, kami menggunakan bus hotel untuk tiba di lokasi meeting yang ternyata termasuk dalam kompleks bandara Schipol. Ada sejumlah sesi presentasi dan diskusi dalam meeting ini, secara umum para QA Manager dari Supply Point Eropa juga cukup kritis dengan kebijakan QFS Numico yang terus  akan memperketat requirementnya.

Sekitar jam 12 tengah hari para peserta meeting break lunch. Di sini acara makan siang hanya menyediakan semacam pengganjal perut, kami semua hanya di sediakan masing masing sandwich dengan beberapa alternative. Beruntung bagi saya karena pemilik gedung rapat/panitia rapat menyediakan  sandwich ikan (ikan akhirnya menjadi menu favorit saya….. ) walaupun agak aneh rasanya karena roti yang dipakai sangat keras dan ikan yang dicampurkan adalah setengah matang atau mungkin mentah. Alhamdulillah ½ bag roti masih bisa saya masukan ke perut saya.

Meeting ini di akhiri dengan diskusi dengan auditor CLF  tentang audit yang dilakukan di SH. Saya disiang hari sempat menelepon teman teman di Jogja dari belanda menggunakan telepon Bapak Sty untuk mengetahui progress improvement CLF ini. Umumnya mereka sudah pulang kantor karena di Indonesia saat itu adalah maghrib.

Kami kembali ke hotel sekitar pukul 17.30, dan tiba di hotel 30 menit kemudian. Setelah membersihkan badan dan sedikit beristirahat sejenak saya sholat dzuhur dan ashar (jama’-takhir) sekitar pukul 19.30. Makan malam saya lakukan di hotel tersebut dengan Pak Sty. Kembali makanan menjadi problem kami berdua, NH Hotel tidak banyak menyediakan makanan internasional, makanan yang tersedia hanya makanan Eropa, kembali saya memesan ikan walaupun rasa yang dihasilkanya tidak menentu, saya akui sudah mulai bosan saya dengan si Ikan ini tapi bagaimana lagi…., saat makan malam kami berbincang bincang betapa kami merindukan sebuah makanan yang sangat kami sukai yaitu…NASI … ya karena semenjak hari senin kita berangkat kita tidak pernah menemukannya.

 

Kamis 16 Juni 2005

Jalan jalan ke Amsterdam city

Hari kamis ini tampaknya sengaja di atur oleh P STY sebagai hari istirahat, tidak ada kegiatan lain di hari ini karena pertemuan Meeting QA Manager Numico sudah berakhir hari rabu kemarin. Kita memang merencanakan akan pergi ke Amsterdam kota. Sekitar jam 09.00 kita pergi menggunakan kereta api listrik dari stasiun Schipol Airport ke Central Station Amsterdam. Setelah membeli ticket untuk pulang pergi kita turun menuju tempat pemberhentian KA yang berada di bawah tanah dari bandara Schiphol. Kereta merupakan sarana transportasi yang utama yang digunakan oleh masyarakat Amsterdam, kereta ini sangat rapih dengan ada dua kelas tempat duduk namun tidak ada penghalang khusus antara dua macam kelas ini kecuali bahwa kelas 2 berada di lantai atas sedangan kelas 1 di bag bawah di gerbong. Yang menarik tidak ada pemeriksaan ticket yang kami alami. Tampaknya mereka yakin bahwa semua penumpang pasti telah membeli ticket.

Kami turun di Central Station, sepertinya pusat kota Amsterdam, beberapa ratus meter dari stasiun toko-toko penjual souvenir dan makanan telah banyak terlihat. Di daerah Jl. Damraak ini  kami berkeliling memasuki toko-toko yang ada. Kami  membandingkan harga souvenir dahulu, yang katanya bisa berbeda antar toko, sebelum membeli  sedikit souvenir yang dijual. Setelah cukup berkeliling rasa lelah kaki mulai terasa, dan waktu tidak terasa telah menuju tengah hari. Kami sepakat untuk makan siang dahulu dan mulai mencari resto-resto  yang menjual makanan Halal.

Cukup banyak restoran kecil di Amsterdam yang menyediakan makanan halal, umumnya adalah mereka para pendatang dari Timor tengah atau Afrika. Kami memasuki salah satu resto tersebut yang dengan menu utamanya adalah Kebab. Setelah bertanya untuk memastikan kehalalannya saya memesan kebab dan Pak Sty memesan sate. Sambil makan kami berbincang bincang dengan pengelola toko yang dari situ saya tahu bahwa mereka berasal dari mesir.

Setelah mengetahui bahwa saya  adalah muslim mereka mengucapkan salam, ”Assalamualaikum “…, ah rasanya saya rindu dengar kata-kata itu, setelah sekian lama tidak mendengarnya… . Saya bertanya tentang waktu sholat, yang ternyata waktu dzuhur adalah sekitar jam 14.00, mereka menawarkan saya sholat dahulu tetapi saat itu kita sudah akan bergeagas pergi. Saya hanya bertanya “seandainya besok kembali lagi untuk berjumatan apakah OK ?”, dia menjawab “OK dan akan menunggu saya pukul 13.30” dalam bahasa inggrisnya yang lebih mudah di tangkap daripada orang belanda asli. Saya katakan saya mungkin akan datang namun tidak pasti. Saya sangat ingin berjumatan di sini tetapi saya harus memastikan waktu terlebih dahulu karena besok jumat adalah hari kita kembali ke Indonesia.

Pertokoan di daerah ini cukup banyak dengan ukuran yang bermacam macam, banyak toko yang berukuran kecil seperti kios.  Saya pun sempat masuk dan berbelanja di sebuah toko milik orang Indonesia. Saya tahu karena saat saya masuk tokonya dia sedang menepon dengan menggunakan bahasa indonesia. Dan kamipun berbincang bincang dengan bahasa Indoensia. Mereka berasal dari Bandung (se kampung nih..) dan telah beberapa tahun menetap di Belanda. Tidak banyak souvenir dan snack yang saya beli, mengingat harganya yang selangit bila di hitung dengan nilai rupiah.

Islam mayoritas di Amsterdam?

Ada sebuah toko yang saya kunjungi yang tenyata agak berbeda dari barang-barang yang dijualnya, Toko ini menjual barang-barang perlengkapan/symbol keagamaan dari berbagai macam agama. Ada Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Islam. Karena tidak banyak pula perlengkapan untuk muslim maka saya tidak lama di sana. Namun Pak STY cukup lama berada disana, tampaknya pak Sty tertarik dan memutuskan membeli sejenis salib atau semacamnya. Pak Sty bercerita bahwa selama memilih di toko tersebut dia banyak berbincang bincang dengan si penjual.

Hal yang menarik dari perbincangan tersebut Pak Sty menyampaikan bahwa orang tadi mengatakan bahwa di Amsterdam jumlah muslim mencapai 45 % dari penduduk Amsterdam (dalam hati saya mengatakan Subhanallah…….. Allahu Akbar ….. sendainya dari yang 55 % itu, 5 % adalah agama lain lain dan 25 % adalah kristen serta 25 % sisanya adalah Katholik maka berarti muslim mayoritas di Amsterdam ini).  Saya tidak tahu mengapa mereka membicarkan hal ini tetapi kemungkinan karena kami berasal dari Indoensia yang mayoritas muslim. Si penjual mengatakan nya bukan pada saya yang muslim tetapi pada Pak Sty yang  Nasrani, artinya dia mengatakan itu bukan untuk menyenangkan lawan bicaranya.

Sekitar jam 15.00 siang kami memutuskan kembali ke Hotel, sebenarnya saya masih berkeliling dan belum puas untuk melihat lihat, namun karena Pak bos sudah mengatakan agak lelah dan ingin kembali maka saya menyetujuinya. Dalam hati saya berkata bahwa saya akan kembali ke sini lagi esok. Besok masih ada waktu karena pesawat akan boarding pada jam sekitar 19 sore/malam. Saya  merencanakan akan kembali ke restoran daging halal tadi dan akan bershalat jumat bersama mereka,  orang mesir pengelola restoran.

Baca tulisan terakhir , bag ke 3..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*